PT Ricry Lebih Tua dari Jembatan Siak I
8 Februari 2010
382 klik
Laporan SYAHRUL MUKHLIS, Rumbai
syahrulmukhlis@riaupos.com
Udara di sekitar Jembatan Siak I masih seperti puluhan tahun lalu. Aroma karet menyesak indra penciuman. Sebuah perusahaan industri karet di sebelah jembatan itu masih terus beraktivitas. Bahkan karet-karet mentah itu masih bergelantungan.
PT Ricry masih terus memproduksi crumb rubber, bahan pembuatan karet yang diekspor keluar negeri untuk memenuhi permintaan pabrik produsen ban. Perusahaan ini sudah
ada sebelum Jembatan Siak I diresmikan Presiden Soeharto tahun 1977 lalu.
Kini di tengah hiruk pikuk perkembangan Kota Pekanbaru, pabrik karet tersebut masih bergeliat melayani permintaan pasar. Dari tahun 1969, karet-karet dari beberapa kabupaten dan kota di Riau terus berdatangan. Petani karet dari Kabupaten Kampar, Bengkalis, Pasir Pangaraian masih menjual hasilnya ke perusahaan tersebut.
Tak banyak perubahan berarti di bangunan perusahaan ini. Pendatang masih melihat atap bertingkatnya saat melewati Jembatan Siak I. Sebanyak 450 pegawai masih terus bekerja, baik usia muda, tua, laki-laki dan perempuan.
90 persen dari pekerja tersebut adalah penduduk tempatan. Namun demikian, pihak perusahaan sebenarnya sudah merasa perlu untuk berekspansi keluar wilayah Kota Pekanbaru karena padatnya pembangunan dan kondisi pabrik yang semakin dekat dengan pemukiman warga.
Manajemen perusahaan sudah membuat perusahaan lain di Simalinyang, Kampar. Rencananya perusahaan akan pindah total ke daerah baru tersebut. Untuk pindah tentunya ada kendala baru yang akan dialami pegawai lama di suatu daerah baru yang akan ditempati. Karena walau bagaimanapun perusahaan harus mempekerjakan 80 persen penduduk tempatan. Berarti, penduduk di sekitar Jalan Nelayan tidak lagi akan dipekerjakan di wilayah Simalinyang.
Humas PT Ricry, Al Bayan saat ditemui di ruangannya, Jumat (5/2) mengatakan mereka belum mendapatkan pemberitahuan tertulis mengenai kepindahan mereka. Namun semua pertimbangan dan antisipasi sudah mereka lakukan. Baik dari segi pegawai, tempat baru dan asal bahan baku.
‘’Pegawai sudah kami beritahukan tentang rencana kepindahan perusahaan, mereka mengetahui dan sudah berpikir ke arah sana,’’ ujar Al Bayan.
Dikatakannya bahwa pegawai mereka punya serikat pekerja jadi semua urusan ketenagakerjaan akan dibahas nantinya dengan serikat tersebut. Semua hak karyawan dan kewajiban perusahaan akan dijalankan sebagaimana ketentuan yang berlaku.
Rizal (34), Dwi (24), Haris (27), warga Jalan Nelayan yang terletak di sekitar pabrik tersebut saat ditemui mengatakan mereka tahu bahwa perusahaan tersebut tidak akan selamanya berada di tempat itu. Namun mereka tidak tahu juga kapan akan pindah.
Saat ditanya bagaimana pendapat mereka jika perusahaan tersebut pindah dari lingkungan mereka, Rizal mengatakan ada untung ruginya. Namun jika itu untuk kepentingan pembangunan Kota Pekanbaru maka itu di luar pemikiran mereka.
‘’Kami ini kan hanya warga, kalau memang perusahaan ini akan pindah yang jelas akan banyak pengangguran di sini karena mereka tidak lagi dipekerjakan di lokasi baru,’’ ujar Rizal.
Kalau soal dampak negatif dari perusahaan tersebut selama ini mereka tidak begitu merasakannya, ‘’Paling hanya bau saja yang kami rasakan, kalau soal lain atau pencemaran kami sudah biasa hidup di sini, bahkan pabrik tersebut sudah ada sebelum kami tinggal di sini, jadi kami tidak tahu,’’ ujar Dwi.
Soal masih bekerja dan beraktivitasnya perusahaan tersebut sampai sekarang bagi mereka tidak ada masalah. Mereka juga tahu bahwa banyak keluarga dari kakek sampai cucu warga di sekitar mereka bekerja pada perusahaan tersebut.***
|