Pengidap Atresia Bilieri dari Trenggalek yang Akan Cangkok Hati (2-habis)
Tak Perlu Takut Donor Liver
8 Februari 2010
301 klik
Laporan Titin Ratna dan Nany Wijaya, Surabaya
Ramdan Aldil dan Bilqis Anindya sama-sama mengidap atresia bilieri dan sama-sama butuh transplantasi. Bedanya, Bilqis di-Kasai, sedangkan Ramdan dibuang limpanya. Kenapa tindakannya beda? Apa untung rugi dua tindakan tersebut?
Teknologi kedokteran sudah sangat maju. Namun, kelainan bawaan atresia bilieri (biliary atretsia) tetap menjadi misteri karena belum ada yang tahu penyebabnya meski sudah banyak ahli yang menelitinya.
Sejauh ini, penelitian-penelitian itu hanya menemukan bahwa atresia bilieri bukan penyakit menurun. Tetapi, kelainan itu muncul di setiap 10.000 kelahiran anak berdarah Asia dan Afro-America. Jarang sekali terjadi pada anak Caucasian (kulit putih atau bule). Anehnya lagi, kasus demikian lebih banyak ditemukan pada anak perempuan daripada laki-laki.
“Kalau dihitung per 1.000 kejadian, memang yang terbanyak pada anak perempuan. Tetapi, yang kami tangani di RSUD dr Soetomo sekarang ini, sekitar enam kasus, terbanyak laki-laki,” jelas dr Sjamsul Arief SpA (K), Ketua im Transplan Liver RSUD dr Soetomo Surabaya, yang pertengahan Januari lalu datang ke pusat transplantasi organ yang terbesar di dunia, yakni OOTC di Tianjin, Tiongkok, untuk mempelajari operasi penggantian hati.
Satu di antara sedikit anak lelaki di muka bumi ini yang terlahir dengan atresia bilieri adalah Ramdan Aldil, bocah Trenggalek berumur tiga tahun yang sebagian kisahnya sudah kami tuturkan di bagian pertama tulisan ini.
Ditambahkan oleh konsultan ahli penyakit hati anak itu bahwa sebenarnya jumlah penderita atresia bilieri di Jawa Timur lebih banyak dari itu. Tetapi, deteksinya sulit karena beberapa alasan. “Sebagian karena tidak melanjutkan pengobatan, sebagian lagi karena tidak dirujuk ke RS Soetomo, yang lain karena keburu meninggal. Anak dengan kelainan ini, jika tak segera diatasi, takkan bertahan lebih dari sembilan bulan.
Penderita kelainan harus sudah mendapatkan pertolongan sebelum usianya melampaui dua bulan. Kalau lebih dari itu, liver dan limpanya keburu rusak.
Seperti yang sudah disebutkan di serial pertama tulisan ini, atresia bilieri adalah tidak terbentuknya saluran empedu dari liver ke usus halus. Karena tidak ada jalan keluarnya, cairan empedu menumpuk dan merusak liver. Proses kerusakan itu terjadi dengan sangat cepat dan mengakibatkan kematian jika tidak segera diatasi. Untuk mengatasinya, hanya ada satu cara: transplantasi liver. Tanpa itu, anak-anak dengan kelainan tersebut akan meninggal secara perlahan dalam usia yang sangat dini.
Persoalannya, untuk transplantasi, dibutuhkan donor dan biaya yang tidak sedikit. Dan kebutuhan biaya itu tidak berkurang setelah pasien ditransplan. Sebab, seperti pada pasien post-transplant lainnya, anak itu harus minum obat antirejeksi (penolakan) dan imunosupresan (penekan imunitas agar tubuh tidak menolak liver baru).
Selain biaya, problem lain yang menghambat upaya penyelamatan bocah atresia bilieri adalah donor. Tidak banyak orang tua yang bersedia menjadi donor liver bagi anaknya. Jadi, beruntung sekali Ramdan karena dua orang tuanya siap mendonorkan liver mereka.
Meski liver sepasang guru negeri di Trenggalek itu sama sehatnya, dokter lebih memilih menggunakan liver sang ibu karena usia guru SDN 1 Gandusari, Trenggalek, itu sembilan tahun lebih muda daripada suaminya yang guru di SMPN 2 Tugu. Ketakutan para orang tua itu bisa dipahami karena memang belum banyak penjelasan tentang bagaimana menjadi donor liver, terutama pada anak.
Seperti yang telah ditulis harian ini, orang tak perlu lagi takut mendonorkan livernya karena sebenarnya mereka tak kehilangan apa-apa. Liver yang dipotong untuk donor dalam beberapa bulan saja sudah tumbuh kembali sebagaimana aslinya. Dan, selama liver dalam proses tumbuh kembali itu, donor bisa hidup normal seperti sebelumnya. Hanya butuh waktu sekitar dua minggu bagi donor untuk beristirahat. Bukan karena livernya baru dipotong, tetapi supaya luka bekas operasinya mengering dan benang jahitannya dibuka. Mereka yang pernah mendonorkan livernya pasti bisa membuktikan hal itu.
Liver adalah satu-satunya organ yang memiliki kemampuan tumbuh kembali. Dan, proses pertumbuhannya sangat cepat, baik pada donor maupun resipien (penerima). Dengan demikian, seperti halnya penyumbang darah, donor liver sebenarnya tidak kehilangan apa-apa. Sebaliknya, dia bisa menyelamatkan hidup orang lain karena sepotong liver yang ditransplantasikan kepada resipiennya juga akan tumbuh mengikuti pola induknya. Luar biasa kan?
Liver terdiri atas dua bagian (lobus), kiri dan kanan. Lobus kanan lebih besar atau 65 persen dari total volume liver. Untuk resipien dewasa, umumnya dokter mengambil lobus yang kanan. Tetapi, kalau ukuran tubuhnya lebih kecil (bukan lebih kurus) daripada donor, yang digunakan lobus yang kecil (kiri). Kalau yang ditransplantasikan lebih besar, ketika bentuknya sempurna, bisa berdesakan di dalam perut. Seperti lemari kebanyakan isi.
Tetapi, kalau resipiennya anak-anak, apalagi bayi, dokter hanya memotong satu atau dua segmen. Atau, secuil kecil saja karena liver terdiri atas delapan segmen.
Itulah sebabnya orang tua Ramdan tidak takut menjadi donor bagi anaknya. Semoga orang tua lain yang anaknya menderita atresia bilieri juga tidak takut. Sebab, memang tak ada alasan bagi mereka dan semua orang sehat yang berumur 18 tahun hingga 50 tahun takut mendonorkan livernya. Apalagi, itu menyangkut hidup anak sendiri.
Terlebih, setelah operasi, donor tak perlu lagi minum obat. Berbeda dengan resipien karena liver yang ada di tubuhnya bukan milik sendiri dan tubuh sangat mengenali itu. Untuk itu, resipien perlu minum obat antirejeksi dan imunosupresan supaya tubuh bisa akur (berdamai) dengan liver baru tersebut.
Dalam kasus atresia bilieri seperti Ramdan dan Bilqis yang sedang dirawat di RS Kariadi Semarang, penyebab kerusakan livernya adalah absennya atau tidak adanya saluran empedu yang ke usus halus. Apakah nanti dokter juga akan mengambil saluran empedu ibunya? Tidak.
Liver memiliki banyak cabang pembuluh darah dan saluran empedu. Sebab, saluran empedu dan pembuluh-pembuluh darah utama di liver memiliki cabang. Cabang-cabang itu pun masih memiliki ranting-ranting kecil. Dan, cabang serta ranting-ranting itu, baik pembuluh darah maupun saluran empedu, ada di setiap segmen liver. Jadi, kalau yang diambil lobusnya, yang dimanfaatkan adalah cabang-cabangnya. Kalau pasien kecil, yang didayagunakan ya ranting-rantingnya.
Tampaknya Tuhan memang sudah menyiapkan liver untuk didonorkan. Karena itu, DIA melengkapi setiap bagian organ terbesar itu dengan pembuluh darah dan saluran empedu yang bisa dimanfaatkan untuk menyambung hidup orang-orang seperti Pak Dahlan dan anak-anak seperti Ramdan itu. Sungguh, Tuhan Maha Agung dan Maha Pencipta!
Untuk Ramdan yang tidak memiliki saluran empedu sama sekali, dokter akan menyambung “ranting” saluran empedu di potongan liver ibunya dengan potongan usus halus bocah berumur tiga tahun itu. Caranya, memotong sedikit bagian bawah usus halusnya. Ujung yang satu disambungkan dengan ujung usus halus yang terpotong, ujung yang lain dibuntu. Di dekat ujung yang buntu itulah, dokter merekatkan ujung saluran empedu milik potongan liver donor. Dengan begitu, setelah liver berfungsi, cairan empedunya bisa langsung mengalir ke usus halus dan membantu tubuh mencerna makanan, kolesterol, dan lemak.
Operasi penyambungan saluran empedu baru ke usus halus ini menjadi agak mudah, ketika pasien atresia bilieri belum di-Kasai. Kasai adalah nama dokter Jepang yang menemukan metode bypass dari liver langsung ke usus halus. Penemuan itu sangat berguna karena membantu mengurangi jumlah cairan empedu yang menumpuk di liver. Tetapi, kalau pasiennya sudah berumur lebih dari dua bulan, tindakan itu sudah tidak efektif lagi karena liver keburu rusak.
Sayangnya, meski sudah dilakukan sedini itu, tindakan Kasai tidak selalu sukses. Artinya, meski sudah di-Kasai, kerusakan liver tetap akan terjadi. Bisa cepat, bisa lambat. Contohnya, Bilqis. Sebab, cairan empedu dibuat di liver. Bahannya adalah limbah darah.
“Setiap 24 jam, darah kita diganti dengan yang baru. Limbahnya atau darah yang lama dibuang ke liver untuk diubah menjadi cairan empedu,” jelas dr Poerwadi SpB SpBA, ahli bedah anak yang akan menangani transplantasi liver Ramdan. Itu berarti donor darah sangat baik bagi kesehatan.
Limbah darah akan meningkat ketika jalan darah baru ke liver rusak. Kerusakan itu ditimbulkan oleh tumpukan empedu yang berlebih, sebelum pasien di-Kasai. Jadi, kalau Kasai-nya terlambat, pembuluh-pembuluh darah kecil yang merupakan jalan bagi darah baru untuk masuk ke liver keburu rusak dan tak bisa dilalui lagi. Akibatnya, darah baru kembali ke “distributor”-nya, yakni limpa. Itu mengakibatkan jumlah darah baru di limpa berlebih.
Demi menjaga keseimbangan dalam darah, kelebihan itu lantas dimusnahkan limpa. Limbah atau “mayat” darah-darah itu lantas dikirim ke liver. Jadi, semakin banyak limbah yang dikirim, berarti semakin banyak cairan empedu yang dihasilkan.
Liver tidak memiliki fungsi untuk memusnahkan kelebihan cairan empedu. Akibatnya, cairan empedu yang berwarna kuning itu menumpuk dan merusak liver. Dan terserap darah serta beredar ke seluruh tubuh, sehingga mengakibatkan kulit, kotoran (BAB), dan mata menguning. Sedangkan air kencing berubah menjadi kecokelatan seperti teh.
Kelebihan produksi cairan empedu itu tak bisa dicegah, selama limbah darah yang dikirimkan limpa masih banyak. Limpa sendiri tak bisa mengurangi limbah itu karena sumsum tulang belakang juga tak mengurangi kiriman sel-sel darah yang baru.
Naiknya beban limpa mengakibatkan organ di sebelah kiri, dekat lambung itu, membengkak, mengganas, dan memangsa semua elemen dalam darah tanpa memedulikan keseimbangannya lagi. Akibatnya, pasien akan mengalami anemia (kekurangan sel darah merah) dan sel darah putih (sehingga ketahanan tubuhnya runtuh).
Itulah alasan dr Poerwadi membuang limpa Ramdan. Kalau tidak dibuang, limpa tersebut bisa pecah ketika perut anak terbentur. Itu akan mengakibatkan pendarahan dalam yang hebat, yang bisa mengakibatkan kematian. Selain itu, untuk “menyelamatkan” sel-sel darah merah dan putih agar pasien tak perlu tambah darah terus. Dan imunitasnya meningkat karena darah putihnya tak habis termakan limpa.
Meski membuang limpa sangat baik bagi pasien atresia bilieri, tindakan itu tak bisa dilakukan lebih awal. Harus menunggu sampai kondisi organ tersebut sudah benar-benar membahayakan pasien. “Sebab, apa pun, punya limpa lebih baik daripada tidak. Tapi, kalau limpanya sudah berubah sifat dan terancam pecah, lebih baik hidup tanpa limpa,” kata dr Poerwadi.***
|